Bawaslu Bantul Tanamkan Literasi Demokrasi kepada Generasi Muda di SMA Negeri 3 Bantul
|
Bawaslu Kabupaten Bantul kembali menggelar program Bawaslu Goes to School sebagai upaya memperkuat literasi demokrasi dan kepemiluan bagi generasi muda. Kegiatan yang berlangsung di SMA Negeri 3 Bantul, Senin (27/7/2026), dikemas melalui keterlibatan langsung dalam upacara bendera dengan menghadirkan Koordinator Divisi Sumber Daya Manusia, Organisasi, dan Diklat Bawaslu Kabupaten Bantul, Sri Hartati, sebagai pembina upacara. Sebanyak 650 siswa dan siswi serta 30 guru mengikuti kegiatan tersebut. Program ini menjadi bagian dari komitmen Bawaslu untuk membangun kesadaran politik sejak dini sekaligus menyiapkan pemilih yang cerdas, kritis, berintegritas, dan aktif dalam pengawasan partisipatif menjelang Pemilu 2029.
Dalam amanatnya, Sri Hartati menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas demokrasi. Menurutnya, para siswa yang saat ini berusia 15–16 tahun akan menjadi pemilih aktif pada Pemilu 2029 sehingga perlu memahami pentingnya mengawal setiap tahapan pemilu sejak sekarang. “Tugas Bawaslu adalah mengawasi agar seluruh tahapan pemilihan berjalan sesuai aturan karena setiap proses pemilu memiliki potensi pelanggaran. Salah satu tantangan yang paling masif saat ini adalah penyebaran berita hoaks, terutama yang memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau deepfake. Karena itu, generasi muda harus menjadi agen penyaring informasi dan tidak mudah terpengaruh oleh berita yang belum terverifikasi,” ujar Sri Hartati.
Ia juga memberikan contoh penerapan nilai-nilai demokrasi di lingkungan sekolah yang telah sukses digelar di sekolah tingkat menengah pertama dan menengah atas se-Kabupaten Bantul, yaitu pelaksanaan Pemilihan Ketua OSIS (Pemilos) secara serentak. Melalui kegiatan tersebut, para pelajar telah belajar menjalankan proses demokrasi yang menyerupai tahapan pemilu secara nyata. Selanjutnya, selain mengingatkan bahaya hoaks, Sri Hartati juga mengajak siswa untuk menolak praktik politik uang yang masih kerap terjadi pada masa kampanye, masa tenang, maupun hari pemungutan suara. Ia juga mengingatkan bahwa syarat utama menjadi pemilih adalah berstatus Warga Negara Indonesia (WNI) dan memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP), serta mendorong siswa yang telah memenuhi syarat untuk aktif mengecek status hak pilih dan lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS) melalui laman cek.dpt.online.
Di akhir pemaparannya Sri Hartati memperkenalkan program Saka Adhyasta, gerakan kepramukaan binaan Bawaslu yang bertujuan mencetak generasi muda berkarakter, berjiwa kepemimpinan, serta peduli terhadap pengawasan demokrasi. Melalui program ini, para pelajar diharapkan dapat berpartisipasi lebih aktif dalam pendidikan demokrasi dan menjadi pelopor pengawasan partisipatif di lingkungan masing-masing. Siswa yang berminat bergabung diarahkan untuk berkoordinasi dengan pembina pramuka sekolah atau menghubungi langsung Bawaslu Bantul serta mengikuti informasi terbaru melalui media sosial resmi milik Bawaslu Bantul.
Penulis : Dindra